Kisah Ustaz Pendamping Terpidana Mati di Nusakambangan

Kisah Horor16 Dilihat

Kisah Ustaz Pendamping Terpidana Mati di Nusakambangan: Tobat, Air Mata, dan Detik Terakhir Eksekusi

PostHariIni.con – Nusakambangan — Pulau Nusakambangan selama ini dikenal sebagai tempat paling sunyi sekaligus paling menegangkan di Indonesia. Di sanalah para narapidana kelas kakap menjalani hukuman terberat, mulai dari seumur hidup hingga hukuman mati. Namun di balik tembok tebal dan penjagaan ketat, tersimpan kisah-kisah kemanusiaan yang jarang terdengar.

Salah satunya datang dari seorang ustaz yang telah lebih dari 30 tahun mengabdikan hidupnya untuk mendampingi para narapidana, termasuk mereka yang tinggal menghitung hari menuju eksekusi mati.

32 Tahun Mengabdi di Pulau Kematian

Ustaz Nai — demikian ia akrab disapa — telah keluar masuk Lapas Nusakambangan selama lebih dari tiga dekade. Ia dipercaya oleh Kementerian Hukum dan HAM untuk memberikan pendampingan rohani bagi para narapidana, baik yang menjalani hukuman berat maupun yang berada di ruang isolasi jelang eksekusi.

Pada masa lalu, fasilitas di Nusakambangan sangat terbatas. Jalanan masih berupa batu kapur, listrik belum memadai, bahkan binatang buas seperti ular dan macan kerap ditemui di sekitar lapas. Namun keterbatasan itu tak menyurutkan langkahnya.

Mendampingi Freddy Budiman: Dari Bandar Narkoba ke Tobat Total

Salah satu kisah paling berkesan bagi Ustaz Nai adalah pertemuannya dengan Freddy Budiman, bandar narkoba kelas kakap yang dijatuhi hukuman mati.

Freddy pertama kali meminta bertemu dengan Ustaz Nai saat berada di blok khusus. Kalimat pertama yang ia ucapkan adalah keinginan untuk bertobat. Sejak saat itu, pendampingan intensif dilakukan, mulai dari konseling, ibadah, hingga mempertemukan Freddy dengan ibunya.

Pertemuan Freddy Budiman dengan sang ibu menjadi momen yang sangat emosional. Tangisan, pelukan, dan penyesalan bercampur menjadi satu. Rasa bersalah terhadap ibunya menjadi beban terbesar yang ia pikul hingga detik-detik terakhir hidupnya.

Menjelang eksekusi, Freddy menunjukkan perubahan drastis. Ia rajin beribadah, mengenakan jubah dan sorban, serta aktif di masjid lapas. Bahkan, pada sore hari sebelum eksekusi, Freddy dipercaya menjadi imam salat Asar berjamaah bersama keluarga, petugas lapas, dan Ustaz Nai.

“Hati dan pikiran saya sudah ke akhirat,” ucap Freddy saat menolak membicarakan harta dunia menjelang penandatanganan berkas eksekusi.

Pertemuan dengan Imam Samudra

Selain Freddy Budiman, Ustaz Nai juga pernah beberapa kali berinteraksi dengan Imam Samudra, salah satu terpidana kasus terorisme. Ia menggambarkan Imam Samudra sebagai sosok pendiam, santun, dan tidak banyak bicara.

Pertemuan mereka diwarnai diskusi ringan dan nasihat tentang istiqamah serta pentingnya generasi muda tidak terjebak pada pemahaman agama yang keliru.

Detik-Detik Menjelang Eksekusi

Menurut Ustaz Nai, narapidana yang akan dieksekusi biasanya menjalani isolasi selama 3×24 jam. Dalam masa inilah peran pendamping rohani menjadi sangat penting untuk menenangkan batin, memberikan doa, dan menguatkan mental.

Aura di dalam lapas menjelang eksekusi berubah drastis. Suasana menjadi lebih hening, para napi lain ikut mendoakan, dan kegiatan keagamaan meningkat.

Eksekusi yang Ditunda dan Istri yang Menangis

Salah satu pengalaman paling menguras emosi adalah saat eksekusi terhadap 14 terpidana mati, di mana hanya empat yang akhirnya dieksekusi. Sisanya ditunda.

Usai eksekusi, Ustaz Nai dicegat oleh istri salah satu terpidana yang ditunda. Dengan tangis dan genggaman tangan yang kuat, perempuan itu menuntut kejelasan tentang nasib suaminya.

Setelah diyakinkan bahwa suaminya masih hidup dan akan ditemui keesokan harinya di lapas, barulah ia tenang. Namun penundaan tersebut justru membuat sang terpidana mengalami depresi berat, sehingga Ustaz Nai kembali dipanggil untuk memulihkan kondisi mentalnya.

Pelajaran Hidup dari Nusakambangan

Dari puluhan tahun pengabdian, Ustaz Nai menyimpulkan satu hal penting: sejahat apa pun manusia, selalu ada kesempatan untuk bertobat. Namun penyesalan sering kali datang terlambat.

Ia menekankan pentingnya hijrah tanpa menunggu momentum, karena kematian tidak pernah memberi tanda. Kisah-kisah di Nusakambangan menjadi pelajaran berharga bagi masyarakat agar tidak gegabah melanggar hukum dan merusak masa depan.

“Jika kalian bahagia di luar sana, lupakan saya. Tapi jika kalian susah, ingatlah nasihat-nasihat saya di penjara,” pesan Ustaz Nai kepada para mantan narapidana yang telah bebas.

Kisah ini bukan tentang kematian semata, melainkan tentang harapan, tobat, dan kemanusiaan yang masih hidup bahkan di tempat yang dijuluki Pulau Kematian.